JAKARTA – Banyak individu cenderung menunda pemeriksaan medis awal, seperti keluhan batuk atau sesak napas, karena merasa masih mampu beraktivitas secara normal. Padahal, penundaan ini berdampak signifikan pada keterlambatan diagnosis. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI (2026), lebih dari 80% pasien kanker baru terdiagnosis pada stadium tiga atau empat. Kondisi serupa terjadi pada penanganan tuberkulosis (TBC), di mana keterlambatan diagnosis ikut menunda penanganan medis sekaligus memperpanjang risiko penularan di tengah masyarakat.
Bertepatan dengan momentum Hari Paru Sedunia yang diperingati setiap 25 September, Prudential Indonesia kembali mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan berkala di setiap tahapan kehidupan.
Tingginya Angka Penundaan Perawatan Medis
Kecenderungan masyarakat menunda perawatan kesehatan terekam dalam studi Prudential plc bersama Economist Impact bertajuk "Suara Pasien Indonesia". Studi tersebut mengungkapkan bahwa 9 dari 10 responden mengaku menunda perawatan medis, dan hampir setengahnya melakukan penundaan secara berulang.
Keputusan untuk menunda perawatan ini tidak semata-mata karena pengabaian. Riset tersebut menunjukkan berbagai hambatan fundamental, mulai dari kurangnya informasi kesehatan yang jelas, prioritas pada kebutuhan mendesak keluarga, hingga kendala pembiayaan. Mengacu pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025, sekitar 26,6% masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan riil dalam membiayai layanan kesehatan.
Pengeluaran kesehatan yang dibayar langsung secara mandiri (out-of-pocket) diperkirakan mencapai Rp175 triliun. Angka ini menempatkan sekitar 12,8 juta penduduk pada risiko penurunan stabilitas ekonomi keluarga secara drastis akibat besarnya beban medis. Fakta ini menegaskan bahwa perlindungan kesehatan merupakan elemen krusial dalam perencanaan keuangan jangka panjang, setara dengan mempersiapkan dana pendidikan atau masa pensiun.
Inflasi Medis dan Pentingnya Proteksi Finansial
Tantangan pembiayaan medis semakin terasa nyata di tengah tren peningkatan penyakit pernapasan yang berbarengan dengan inflasi biaya kesehatan. Pada September 2026, Kementerian Kesehatan RI mencatat adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di wilayah Banten, Lampung, dan Jawa Barat, yang berimplikasi pada tingginya kebutuhan perawatan medis.
Berdasarkan data industri asuransi di Indonesia, rata-rata biaya perawatan penyakit pernapasan mengalami lonjakan tajam sebesar 106,3%, yakni dari Rp49,9 juta pada 2023 menjadi Rp103 juta pada tahun 2025.
Menyikapi hal tersebut, Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, menegaskan pentingnya keseimbangan antara pola hidup sehat dan persiapan finansial yang matang.
"Di tengah tingginya biaya pengobatan dan perawatan rumah sakit di Indonesia, memilih produk asuransi kesehatan dari perusahaan yang mampu memberikan perlindungan sekaligus pendampingan menjadi bagian vital dari perencanaan keuangan. Hal ini memastikan nasabah tidak perlu mengorbankan tabungan maupun tujuan keuangan jangka panjang mereka ketika menghadapi kondisi medis yang tidak terduga," jelas Yosie.
Inisiatif Preventif dan Pendampingan Nasabah Terpadu
Sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif, Prudential Indonesia secara konsisten menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan melalui berbagai inisiatif perusahaan. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 4.570 partisipan yang terdiri dari nasabah, tenaga pemasar, dan karyawan telah mengikuti mini medical check-up (MCU) gratis yang diselenggarakan berkolaborasi dengan jaringan PRUPriority Hospitals.
Selain itu, melalui program PRUActive yang telah bergulir sejak 2023, Prudential berhasil memobilisasi lebih dari 60.000 masyarakat untuk berolahraga bersama. Inisiatif ini dirancang untuk menumbuhkan gaya hidup sehat, meningkatkan kesadaran akan faktor risiko penyakit, serta memfasilitasi langkah pencegahan sedini mungkin.
Manfaat nyata dari ekosistem perlindungan ini dirasakan langsung oleh nasabah. Doni Kurniawan, yang telah menjadi nasabah Prudential Indonesia sejak 2016, membagikan pengalamannya.
"Saya sempat memanfaatkan fasilitas mini MCU saat menghadiri Customer Day. Pengalaman tersebut sangat menyenangkan karena tim Prudential sangat informatif dan komunikatif. Pada akhir 2025, saya pertama kali mengajukan klaim untuk tindakan operasi. Setelah mendapat diagnosis dokter pada hari Sabtu, agen Prudential dengan sigap mengurus administrasi sehingga saya bisa dirawat inap pada hari Minggu dan langsung dioperasi pada Senin. Seluruh biaya perawatan dan pasca-operasi sekitar Rp35 juta ditanggung oleh Prudential dengan proses yang sangat lancar," ungkap Doni.
Berbekal rekam jejak sebagai pelopor asuransi kesehatan di Indonesia, Prudential berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat di setiap fase kehidupan.
"Sejalan dengan semangat 'Janji, jadi nyata', Prudential Indonesia menghadirkan berbagai solusi perlindungan yang dirancang untuk menemani kebutuhan kesehatan nasabah yang terus berkembang—mulai dari langkah preventif, deteksi dini, hingga dukungan perawatan. Kami ingin memastikan nasabah memiliki proteksi yang relevan, sehingga mereka dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan percaya diri," tutup Yosie.